It's always a while

Sudah lama saya tidak menulis, seperti sakit rasanya.

Bolehkah saya menggambarkan rasa senang ketika pikiran sedang kacau-kacaunya?
Saya rasa tidak ada salahnya.




I once wrote, the first time I visited this city.. How I certainly feel more alive here more than anywhere else could give me such feeling before.

(Mungkin saya yang belum melihat dunia lebih luas lagi. Tapi ya, energi saya terlanjur jatuh cinta dengan suasana kota ini. Mereka terikat sepertinya)





Those drafts that turns into things I wrote...

To see and feel MEL got me thinking :
How could it possible to left anyone’s whole heart to a city,
a place,
things,
but not a person?

Here’s some doubtable theory of mine : (1) City (2) Places (3) and Things didn’t change.
At least their soul aren’t. By physically, things might be different,
but the certain feeling didn’t go away.
List of certain feeling (CF) :

Like I used to feel for the least city I find joy but have to live in ; Jakarta. Jakarta give me a certain feeling, and that is : unfit. I live but didn’t fit there. I just politely live.
Otherwise, the country slash city of SIN left me this CF : grateful and bore.. Singapore is just another routines because my parents did me go there every time and I thank for the chance that my parents afford while the fun can not be last. So grateful and bore suits the CF.

Bali. I personally always missing Bali. CF : inner peace.
And the one puts me into this theory, Melbourne, are : liveable. The streets, shops, art were alive. I want to live the way life likely should be and Melbourne gave that certain feeling.
On the other side, people’s perspective to other are dynamically change. Some ex’s used to give that: Love. And after that, there just a pain. Feelings are forcely changing. It evolves when it comes to a person. But place, and things.. They just put a certain feeling that always, always 
feel the same."

Setelah banyaknya pertemuan dan perbincangan aneh dengan sahabat saya, Axel, akhirnya saya dan Dhika setuju untuk mengikuti jadwalnya pergi ke kota itu lagi, dengan tujuan yang berbeda pula tentunya. Axel berlibur dengan saudara (Ya, kami ikut karena ajakan anehnya), Dhika mengunjungi Kakaknya yang hendak melanjutkan studi S2, saya, utamanya selalu Dea, dan kali itu berjanji untuk bertemu dengan yang lainnya.
















(Kiri - Kanan : Sahabat sekaligus teman sekelas tahun pertama di Sekolah Menengah Pertama, Axel & Dea)

Hobba, Malvern Road, merupakan pilihan kami bertiga ketika sebelum berangkat melihat rekomendasi salah satu majalah lifestyle ternama, sebut saja Monocle. Saya ingat betul tulisannya “Hobba : Go for breakfast”. Maka inilah hal pertama yang saya tangkap dari kamera di luar Apartment Dea. 

















Highlight of the meal : Eskrim dan tremornya tangan saya, lalu menu avocado yang memang saya dan Dhika benar suka karena kesegarannya. Tapi kedua sahabat saya lainnya lebih jatuh hati pada beef brisketnya. Mungkin karena selalu tidak ada yang salah dengan daging?

















Ya, kiri ini Dhika. Radius rumahnya sangatlah tidak jauh dari saya. Ia biasa naik sepeda (/minjem) ketika ke rumah saya.

Akhirnya melihat Block Arcade bersama Dinda (Sahabat dari jenjang Taman Kanak-Kanak, yang lucunya pembantu Dinda dan supir saya saking sering mainnya akhirnya menikah. Hasil foto Dinda tremor kembali)

















Yang tidak disangka-sangka akhirnya kami masuk dan melihat karya, gambar, dari Dr. Seuss yang tidak mampu kami beli tentunya.

















(Saya coba setting camera lalu Axel tinggal memencetnya bagian 1 cukup berhasil!…)
















Hari-hari berikutnya saya kembali ke QVM, membeli roti rekomendasi dari Dea, Salmon segar, lalu oleh-oleh seperti Granola. Saya haya memotret Axel dan Dea saat mengantri membeli kopi, karena saya tidak mengonsumsinya..

















Saat duduk, seorang perempuan menghampiri, besar dan kaum kaukasian, berbincang mengenai masa lalunya, berbahasa Indonesia dengan lancar. Yang akhirnya menawarkan brosur kepada kami, dalih-dalih perpindahan agama ternyata.

Heide Museum merupakan tempat yang tentunya akan saya rekomendasikan. Terkadang ada pameran berbayar, jika beruntung pasti akan menemukan hal-hal yang menarik, namun toko merchandising museum ini lebih menarik perhatian saya dan halaman penuh patung-patung/instalasi yang tersebar dimana-mana. Saya suka.



















Walau banyak tremor, namun tempat ini membiarkan kami untuk bersantai, keliling tanpa beban, tanpa diburu-buru waktu, hanya kenginan untuk manjat sana-sini karena kelihatannya seperti aktivitas yang seru. Mengingat waktu luang kami yang masih lama, menenangkan.

Saya suka lupa, saya berlibur ketika harus sholat idul adha, maka saya berjalan naik tram agak jauh untuk mengikuti sholat di tempat dimana Kakak Dhika menjadi volunteer didalamnya. Hal-hal yang tertangkap kamera : Sholat di dalam lapangan basket, penuh perkumpulan teman-teman dari Indonesia.


















Memotret Kakak Dhika, Kak Ayas, yang ternyata latar “Railway hotel” merupakan tempat yang Axel ingin kunjungi untuk memakan Dry-Age Steaknya. Namun sehari sebelumnya kami telah memakannya di La Luna Bistro, tempat terpencil di Tengah perumahan saran dari Kakak Abi yang pindah kewarganegaraan Australia. Setelah itu Kak Ayas membawa kami ke K-Mart, department store dengan harga yang sangat terjangkau, dan muncullah sisi-sisi impulsif ketika mengunjunginya dimana Kak Ayas berakhir dengan membeli sejumlah peralatan dan perlengkapan (cukup banyak) untuk di rumahnya.


















Kembali lagi ke NGV, bersama Mba Agatha dari Deaken kali ini. Menikmati pameran rutinnya yang gratis karena sehari sebelumnya telah mengunjungi pameran Hokusai (The Great Wave off Kanagawa jika kalian familiar dengan ini.)






















Senang menemani Mba Agatha membeli sepatu hari itu, bertepatan dengan Melbourne Fashion Week dimana bertebaran produk gratis dimulai dari jus sehat, cotton candy, cokelat, scarf, dan banyak atraksi, panggung, privilege menarik di sepanjang jalan hari itu. Beruntung karena kata Dea biasanya tidak dirayakan seramai tahun ini. Sebelum menutup hari dengan Jess Locke, Hachiku, Fazerdaze, dan HSP (Saya rindu HSP) menyempatkan foto di depan artist favorit, Warhol, lalu mengintip Lupa-J persiapan acara dari atas panggung.















Dan, ya.. That’s my last roll.
Intinya : saya selalu jatuh cinta dengan kota ini dan seisinya. Akan kembali lagi tentunya, berulang kali untuk merasakan jatuh hati lagi, berkali-kali.

Saya tau tidak ada salahnya untuk menulis ini dan keinginan untuk jatuh hati kembali,
tapi saya rasa ini tidak sepenuhnya benar.








Untuk kota yang terus memberikan rasa bahagia yang sama, bahkan lebih dari itu,
Melbourne 2016 & 2017.

He dance to the song.


This story was from one Saturday night where everyone else back home...


I ran into the one who shared so many passions for organizing and directing as Much as I am, old-version-of-me-connections, named Akar (by my choice).

Hello, Kar!
This one's for you.


To whom I write so many times before, but this is the first time I write a story about Akar.
We're that kind of old fashioned friendship, who care so much about basic questions and answers. Like,
What's your favorite meal?
Favorite movies?
Colors?
..and the list goes on.

For us, sometimes people missed little things that actually are matters.


He played Come on Eileen, stood up, and do some little move, looked happy with the song he chose.. which I can only imagined happened in some movie' scene.

And after some moments.. He look out the city landscape through the abounded balcony, that I barely went to, and something loud was heard all around the city. A song. One song that God only knows how they can diffuse it loudly and make the night became more novelties.


"I'll make a scene out of this night."

As I buried it deep in my thoughts.


Since then,
I never find peace in that balcony as I do now.


Cheers for the future,
and a better writer.

(April 2017)
I shall have written in my pain
and gracefully way.

-
I saw that pain,
lining..
passed through I ear.

it wasn't pain.
I know..
It's surely not pain.

(September, 2015)

Ada baiknya seringkali berbahasa.

Judul itu bukan masuk kedalam tags lagi sepertinya,
namun, keinginan pribadi untuk mencoba bertutur Bahasa lebih baik membawa kembali kesempatan untuk menulis disini.

Menambah wawasan akan kosa kata baru setiap harinya adalah priority goal untuk saat ini.

Karena ketika melihat sekitar, mulai berfikir..
Dan kembali terinspirasi.

This recents months.. I failed on one of my dreams, cita-cita melanjutkan sekolah di Jalan Ganesha itu..

Gagal,
mungkin itu kalimat yang tepat buat deskripsiin pertama kali lihat pengumuman yang harusnya dari jam 17:00 bisa dilihat, sampai 946 notifications line yang gadibuka, semua pada akhirnya terbalas ketika jam sudah menunjukan pukul 23:00.

Tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain,
mungkin..
Lebih seperti berkata.. Tuhan Mahaadil?



Selalu berkeinginan untuk menginspirasi orang, mau bilang kalau,

“Percaya deh kalau tidak ada istilah yang tidak mungkin di dunia ini,”

Itu yang bikin terkadang rasanya itu lebih pada kalimat kegagalan instead of yang lain.
Malam itu panjang rasanya, sesek banget, gabisa tidur, serta adegan-adegan klise lainnya.

Esok harinya, mulai memutuskan mencari nomor peserta di salah satu koran ibukota yang memaparkan sejumlah kabar bahagia kelulusan itu.
Hasilnya sama, mau diulang baca pake kacamata tiga dimensi juga ga akan berubah.
Mau tidur lagi terus dibangunin pake ember bertabur pelangi juga ga ada bedanya.

Dan pada hari itu pula kedua kalinya mengambil keputusan untuk posting di salah satu social media yang daridulu sebenernya udh ada,
tapi baru booming saja lagi.
Hebat ya dipikir-pikir gimana dimensi waktu bikin perubahan sebegitu signifikan terhadap perspektif medianya?



Itu postingnya,
diikuti dengan kalimat,

So I have a faith that Allah gives what we actually really need,
not Always what we wanted.

And I have a faith in so many things karena hanya ada 1 alasan untuk semua jawaban,
Tuhan Mahaadil. :-)"

Nge-post itu lagi barengan sama perjalanan menuju salah satu rumah sahabat yang letaknya di daerah Dharmawangsa.

Sambil jalan, mulai membaca rangkaian kata-kata dari sahabat-sahabat melalui satu posting tersebut.
Selagi membaca yang terus tidak ada berhentinya buat saya berfikir..

Sebuah hal kecil saja benar-benar bisa ngerubah pikiran seseorang ya?

Gabisa berhenti berterimakasih dan bersyukur sejak itu.
Ucapan selamat, bangga, dan segala hal yang bikin pengen nangis bikin yakin kalau benar adanya,

Tuhan Mahaadil.

Udah tiga kali dan mau keempat kalinya mention kalimat “Tuhan Mahaadil”,
emang sih bukan salah satu hajah ataupun lulusan sekolah religi, tapi,
I swear that was the only thing that comes into this friggin mind tiap mikirin hal-hal berjenis realita serta sederajatnya.

Inti saraf otak ini menjelaskan bahwa,
things didn’t always work the way we always thought, right?
And that’s practically like the law of the mother nature that we just can not control.
.. it's just meant that you are gladly alive.

Panjang juga ya udah nulisnya..

Selalu berniat untuk berbagi soal cerita, yang tadinya pengen nulis kisah inspiratif bicara tentang

Bisa loh masuk ke sekolah impian..”,
tapi bukannya berhenti disitu saja mau menginspirasi orang, karena sekarang ada alasan untuk kembali ingin menginspirasi dengan bilang,

Gapapa ga di tempat yang kita mau, karena Tuhan tau apa yang baik buat kita disaat kita gatau apa-apa.

Pikirin hal terbaik saja mulai dari pikirin beribu alasan kenapa ga di kasih di tempat situ..

Mungkin pernah salah kata sama siapa? Atau pernah bantah orang tua? Atau belum hatam Al-Quran? Atau pernah nyisain makanan gitu aja? Atau pernah minjem isi pensil lupa dibalikin?

Disaat kita semua melakukan hal-hal kecil itu semua, banyak orang diluar sana yang anggap saja lebih pantas untuk mendapatkan posisi yang kita mau.

Berfikir bahwa banyak orang diluar sana yang lebih pantas berkesempatan belajar di tempat yang kita dambakan dibandingkan kita.

Anggap saja bila merasa sekolah yang selama ini diimpikan kita rasa akan membuat pribadi kita menjadi sesosok pemimpin dan hal baik lain namun kita gagal mendapatkannya
hanyalah sebuah arti lain bahwa

we have already are a leader and that kind of good stuffs that we do not necessarily need anymore."

Ingat kembali, bahwa
mereka yang menempati posisi itu lebih pantas berada di tempat impian kita dibandingkan kita sendiri.

Bayangin kalau kalian di tempat yang kalian selalu mau,

ga akan ada terlintas yang namanya mau membuktikan sesuatu,
at least buktiin, “gue jadi orang nih”,

mungkin nanti saatnya, belum sekarang.
But we’ll get there kok.

Karena emang benar ternyata,


tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. :-)