He dance to the song.


This story was from one Saturday night where everyone else back home...


I ran into the one who shared so many passions for organizing and directing as Much as I am, old-version-of-me-connections, named Akar (by my choice).

Hello, Kar!
This one's for you.


To whom I write so many times before, but this is the first time I write a story about Akar.
We're that kind of old fashioned friendship, who care so much about basic questions and answers. Like,
What's your favorite meal?
Favorite movies?
Colors?
..and the list goes on.

For us, sometimes people missed little things that actually are matters.


He played Come on Eileen, stood up, and do some little move, looked happy with the song he chose.. which I can only imagined happened in some movie' scene.

And after some moments.. He look out the city landscape through the abounded balcony, that I barely went to, and something loud was heard all around the city. A song. One song that God only knows how they can diffuse it loudly and make the night became more novelties.


"I'll make a scene out of this night."

As I buried it deep in my thoughts.


Since then,
I never find peace in that balcony as I do now.


Cheers for the future,
and a better writer.

(April 2017)
I shall have written in my pain
and gracefully way.

-
I saw that pain,
lining..
passed through I ear.

it wasn't pain.
I know..
It's surely not pain.

(September, 2015)

"Roti Selai" namanya.

Paginya asing bagi kami.


Bagi Praditya tepatnya.







Sesungguhnya,

Pagi itu pun asing bagiku.





















Mungkin besok,
atau entah kapan,
hari pagi takkan lagi seasing di bulan Maret hari 21 tahun 2015 itu.

Ada baiknya seringkali berbahasa.

Judul itu bukan masuk kedalam tags lagi sepertinya,
namun, keinginan pribadi untuk mencoba bertutur Bahasa lebih baik membawa kembali kesempatan untuk menulis disini.

Menambah wawasan akan kosa kata baru setiap harinya adalah priority goal untuk saat ini.

Karena ketika melihat sekitar, mulai berfikir..
Dan kembali terinspirasi.

This recents months.. I failed on one of my dreams, cita-cita melanjutkan sekolah di Jalan Ganesha itu..

Gagal,
mungkin itu kalimat yang tepat buat deskripsiin pertama kali lihat pengumuman yang harusnya dari jam 17:00 bisa dilihat, sampai 946 notifications line yang gadibuka, semua pada akhirnya terbalas ketika jam sudah menunjukan pukul 23:00.

Tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain,
mungkin..
Lebih seperti berkata.. Tuhan Mahaadil?



Selalu berkeinginan untuk menginspirasi orang, mau bilang kalau,

“Percaya deh kalau tidak ada istilah yang tidak mungkin di dunia ini,”

Itu yang bikin terkadang rasanya itu lebih pada kalimat kegagalan instead of yang lain.
Malam itu panjang rasanya, sesek banget, gabisa tidur, serta adegan-adegan klise lainnya.

Esok harinya, mulai memutuskan mencari nomor peserta di salah satu koran ibukota yang memaparkan sejumlah kabar bahagia kelulusan itu.
Hasilnya sama, mau diulang baca pake kacamata tiga dimensi juga ga akan berubah.
Mau tidur lagi terus dibangunin pake ember bertabur pelangi juga ga ada bedanya.

Dan pada hari itu pula kedua kalinya mengambil keputusan untuk posting di salah satu social media yang daridulu sebenernya udh ada,
tapi baru booming saja lagi.
Hebat ya dipikir-pikir gimana dimensi waktu bikin perubahan sebegitu signifikan terhadap perspektif medianya?



Itu postingnya,
diikuti dengan kalimat,

So I have a faith that Allah gives what we actually really need,
not Always what we wanted.

And I have a faith in so many things karena hanya ada 1 alasan untuk semua jawaban,
Tuhan Mahaadil. :-)"

Nge-post itu lagi barengan sama perjalanan menuju salah satu rumah sahabat yang letaknya di daerah Dharmawangsa.

Sambil jalan, mulai membaca rangkaian kata-kata dari sahabat-sahabat melalui satu posting tersebut.
Selagi membaca yang terus tidak ada berhentinya buat saya berfikir..

Sebuah hal kecil saja benar-benar bisa ngerubah pikiran seseorang ya?

Gabisa berhenti berterimakasih dan bersyukur sejak itu.
Ucapan selamat, bangga, dan segala hal yang bikin pengen nangis bikin yakin kalau benar adanya,

Tuhan Mahaadil.

Udah tiga kali dan mau keempat kalinya mention kalimat “Tuhan Mahaadil”,
emang sih bukan salah satu hajah ataupun lulusan sekolah religi, tapi,
I swear that was the only thing that comes into this friggin mind tiap mikirin hal-hal berjenis realita serta sederajatnya.

Inti saraf otak ini menjelaskan bahwa,
things didn’t always work the way we always thought, right?
And that’s practically like the law of the mother nature that we just can not control.
.. it's just meant that you are gladly alive.

Panjang juga ya udah nulisnya..

Selalu berniat untuk berbagi soal cerita, yang tadinya pengen nulis kisah inspiratif bicara tentang

Bisa loh masuk ke sekolah impian..”,
tapi bukannya berhenti disitu saja mau menginspirasi orang, karena sekarang ada alasan untuk kembali ingin menginspirasi dengan bilang,

Gapapa ga di tempat yang kita mau, karena Tuhan tau apa yang baik buat kita disaat kita gatau apa-apa.

Pikirin hal terbaik saja mulai dari pikirin beribu alasan kenapa ga di kasih di tempat situ..

Mungkin pernah salah kata sama siapa? Atau pernah bantah orang tua? Atau belum hatam Al-Quran? Atau pernah nyisain makanan gitu aja? Atau pernah minjem isi pensil lupa dibalikin?

Disaat kita semua melakukan hal-hal kecil itu semua, banyak orang diluar sana yang anggap saja lebih pantas untuk mendapatkan posisi yang kita mau.

Berfikir bahwa banyak orang diluar sana yang lebih pantas berkesempatan belajar di tempat yang kita dambakan dibandingkan kita.

Anggap saja bila merasa sekolah yang selama ini diimpikan kita rasa akan membuat pribadi kita menjadi sesosok pemimpin dan hal baik lain namun kita gagal mendapatkannya
hanyalah sebuah arti lain bahwa

we have already are a leader and that kind of good stuffs that we do not necessarily need anymore."

Ingat kembali, bahwa
mereka yang menempati posisi itu lebih pantas berada di tempat impian kita dibandingkan kita sendiri.

Bayangin kalau kalian di tempat yang kalian selalu mau,

ga akan ada terlintas yang namanya mau membuktikan sesuatu,
at least buktiin, “gue jadi orang nih”,

mungkin nanti saatnya, belum sekarang.
But we’ll get there kok.

Karena emang benar ternyata,


tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. :-)